Tampilkan postingan dengan label Pencak Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencak Silat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

Silat Cikak Kalima Bengkulu

20110522-cikak-01
Adalah dua orang kakak beradik pencari kayu bakar. Dang kumbang dan Ding kumbang. Ditengah tengah mencari kayu bakar mereka melihat dua ekor harimau yang sedang berkelahi. Disela rasa takut mereka, disempatkannya mengintip perkelahian itu. Ada terkaman, tangkapan, langkah menghindar dan cakaran. semua diperhatikan dengan seksama. Ketika sampai dirumah dua kakak beradik itu mempraktekan gerakan gerakan harimau tadi. dan terciptalah langkah, tangkapan dan kuncian. Kemudian Silat itu dinamakan silat Cikak. Ci berarti silat dan kak berarti perkelahian.

20110522-cikak-02

Silat cikak ini adalah silat asli bengkulu. Dengan ciri khas tangkapan dan kuncian.
Silat ini memiliki 5 langkah:
* Diawali dengan berdiri tegak alif, yang berarti berdiri dalam kebenaran,
* Dialnjutkan dengan langkah titi batang yang mengambarkan berjalan lurus menuju kebenaran,
* Langkah tigo genting yang berarti menjaga keseimbangan,
* Kilip langkah empat yang bermakna untuk menjaga keseimbangan kiri dan kanan,
* Kilip langkah lima yang berarti untuk menjaga sikap kesempunaaan dalam kewaspadaan


Selain itu kita juga memiliki beberapa macam tangkapan seperti tangkap satu sampai dengan tangkap lima atas dasar jadi berjadi dalam proses kejadian untuk menuju kesempurnaan:

tanah baru ada setapak miring,
laut ada secangkir kecil,
gunung baru ada sebentang benang,
tali lingkaran belum terhubung masih terputus2 di tengah susah berdiri,
tegak tangan di ayun keseimbangan,
baru dapat sekembang payung ats kehendak jadi berbuat tumpu dalam atas kehendak pendirian mengaku dalam kebenaran pencipta dikerjakan untuk perkembangan penjuru
empat tali dijago gerak diatur menurut waktu untuk menetukan dalam kebenaran


20110522-cikak-03


Silat cikak ini adalah sialat warisan nenek moyang di bumi raflesia bengkulu, yang sepatutnya kita jaga dan lestarikan.Silat ini bisa bertahan karena praktisinya sadar betul pentingnya kekuatan kebudayan bangsa ini.
Pencak silat merupakan benteng pertahanan terakhir bangsa ini. melupakannya berarti memberi andil dalam menghancurkan bangsa ini

Sabtu, 12 November 2011

Maen Pukul Troktok

Maen pukul Troktok atau yang di Ulujami biasa disebut dengan “LANGKAH” atau “RONCE” adalah salah satu maen pukul disamping beberapa aliran maen pukul yang ada dan berkembang di Ulujami. Maen pukul ini dibawa ke Ulujami sejak Kong H Dilun mempelajarinya dari Guru Marzuk asal Rawakidang Tangerang. Guru Marzuk adalah seorang guru yang selain dikenal dengan penguasaan teknik-teknik beladiri yang mumpuni beliau juga dikenal dengan kealimannya sebagai seorang ulama.
Kong H Dilun merupakan murid angkatan pertama asal Ulujami yang mempelajari maenan ini yang selanjutnya beliau menurunkan kepada anak-anaknya yang salah satu diantaranya adalah H.M.Syukri. Langkah Kong H Dilun belajar kepada Guru Marzuk kemudian diikuti oleh beberapa anggota keluarga dan kerabat lainnya asal Ulujami. Mereka tersebut diantaranya adalah:
1. Ki Belum(H.Hablum)
2. Ki Inan
3. Kong Awih,Peninggaran Cipulir
Maen pukul yang bagi kebanyakan pemuda betawi khususnya di Ulujami saat itu menjadi semacam menu wajib disamping menu wajib lainnya seperti sholat dan mengaji yang selalu mengisi keseharian mereka. Masyarakat Ulujami yang saat itu pola kehidupannya adalah berkebun/bertani dan juga sebagai penjahit peci(kopiah) tetap berusaha meluangkan waktunya mempelajari maen pukul Troktok ini disela-sela istirahatnya dari kelelahan seharian berkebun/bertani dan menjahit peci.
Alhasil dari sekian banyak murid yang “jadi”,Ki Belum adalah salah satu murid asal Ulujami yang diberi kepercayaan oleh Guru Marzuk untuk mengajarkan ilmu maen pukul ini.(menurut informasi dari beberapa murid senior,Ki Belum menyebarkan/mengajar maen pukul Troktok sampai kedaerah Petojo dan sekitarnya,sedangkan H.Seud bin Guru Marzuk yang saat itu menjabat sebagai seorang wedana didaerah Kebayuran/Peninggaran Kebayuran(sekarang Kebayoran Lama) adalah yang mengajar/menyebarkan didaerah Kebayuran itu sendiri dan sekitarnya(Radio Dalam,Lebak Bulus,Kemang dan Terogong…?).
Sementara itu dikediaman Kong H Dilun dimana beliau mengajarkan anak-anaknya kerap kali dikunjungi oleh Ki Belum,Ki Inan maupun Kong Awih. Selain bersilaturahmi biasanya dalam kunjungan mereka tersebut selalu di”bumbui” dengan mengajak H.M.Syukri ber”tukar pikiran”,hal ini menjadikan H.M.Syukri selain mendapat pelajaran dari bapaknya juga semakin terasah dengan adanya proses “tukar pikiran tersebut”.
Setelah lamanya proses pembelajaran tersebut,H.M.Syukri mulai sering menghabiskan waktunya diluar Ulujami bahkan ia sempat beberapa lama menetap untuk tinggal dibeberapa tempat seperti diKemanggisan(keluarga istrinya). diPasar Baru dan juga di Rawa Bengkel Cengkareng(keluarga kakak-kakaknya) hingga akhirnya ia diminta untuk kembali menetap diUlujami oleh keluarga dan kerabat.
Sekembalinya H.M.Syukri di Ulujami banyak para pemuda menyambutnya dengan minta diajari maen pukul Troktok kepadanya dikarenakan antara lain banyaknya tokoh/guru maen pukul Troktok di Ulujami yang telah wafat juga lantaran adanya perintah dari salah seorang kiai besar diUlujami(KH.Mansur Fathi bin H.Abdul Muin bin H.Buang) yang sekembalinya ia dari “mukim”di tanah suci Mekkah yang menyemangati para pemuda untuk mempelajari maen pukul sebagai salah satu kewajiban membela diri,keluarga dan kampung halamannya.
Sejak itu sanak saudara dan kerabat banyak yang berniat untuk belajar. H.M.Syukri dalam menerima murid-muridnya biasanya ia memerintahkan kepada sicalon murid untuk terlebih dahulu mempelajarinya dari tempat/guru lainnya dengan alasan untuk menghormati para guru yang masih ada,hal ini pernah dialami oleh salah satu murid senior yang bernama Bang Aini ketika bermaksud menyampaikan niatnya untuk minta diajari maen pukul oleh beliau. ia beberapa kali ditolak hingga Bang Aini sempat mempelajarinya(Troktok) dari Kong Awih bahkan ia juga sempat belajar maen pukul dengan aliran aliran yang berbeda,hingga ia pun diterima sebagai murid oleh H.M.Syukri(penampilan maen pukul Troktok pernah ditampilkan distasiun TVRI pada tahun 80-an atas undangan Bapak Eddy Nalapraya. Yang pada kesempatan tersebut Bang Aini yang didampingi H.M.Syukri sempat menampilkan maen pukul Troktok).
Maen pukul Troktok yang diajari H.M.Syukri kepada murid-muridnya ini dimulai dengan “JURUS”(biasa disebut dengan “JURUS ANGIN”) yang terdiri dari 4 jurus dasar diantaranya adalah:
1. Jurus Pukul
2. Jurus Deprok
3. Jurus Kancut/Bentak
4. Jurus Kepang/Seliwa
(susunan jurus ini bisa berubah sesuai kemampuan sicalon murid dalam penguasaannya)
Lalu setelah menguasai 4 jurus tersebut lalu dilanjutkan dengan LANGKAH atau rangkaian dari jurus-jurus dasar,yang dimulai dengan langkah 2 dan ditutup dengan langkah 1 berikut susunannya:
1. Langkah 2 Kurung
2. Langkah 3 Kurung
3. Langkah 4 Totok/Colong
4. Langkah 5, terbagi menjadi 2
a. Langkah 5 Sangkol
b. Langkah 5 Tetes
5. Langkah 1, juga terbagi menjadi dua
a. Langkah 1 Silo Macan
b. Langkah 1 Ngayak.
(Sedangkan susunan pada “LANGKAH” ini terdapat sedikit perbedaan pada versi awalnya)
Dan setelah murid dinilai telah “licin” penguasaannya atas jurus dan langkah,barulah ia diberi gerak-gerak sambut/aplikasi.
Berikut beberapa nama/istilah dalam sambut;
1. Kancut/Bentak
2. Patah kaki
3. Cekikan
4. Guntingan
5. Kelim
6. (n)jiret
7. Patah pinggang
8. Junjang
9. Limbang
10. Sabet kaki
12. Bendung Dll
Yang masing-masing gerak sambut tersebut mempunyai bukaannya masing-masing mengimbangi bukaan lawan. Karena pada dasarnya setiap kunci pasti ada bukaannya.
Sementara untuk permainan senjata dalam hal ini H.M.Syukri tidak mengajarkan secara khusus melainkan senjata mengikuti/mengiringi gerak dan jurus. Adapun permainan toya yang diciptakan oleh Kong Awih(konon terciptanya permainan toya ini lantaran kejadian bentrok antara Kong Awih dengan beberapa polisi belanda pada saat itu.yang melahirkan gerak-gerak spontan dalam bertahan dan menyerang) diperkenalkan H.M.Syukri kepada murid-muridnya,namun tidak dijadikan sebagai pelajaran utama.
Gerak jurus,langkah dan sambut yang diajarkan oleh H.M.Syukri kepada murid-muridnya mempunyai sedikit perbedaan dengan gerak jurus,langkah dan sambut pada versi awal maen pukul Troktok ini di Ulujami. Hal ini disebabkan antara lain penekanan H.M.Syukri pada permainan akal yang dibarengi dengan kecepatan dan ketepatan(murni teknik). Akal dalam merespon gerak lawan yang menghasilkan gerak spontan yang cepat dan tepat dalam melancarkan serangan balik kepada lawan dan usaha menempatkan pada posisi selalu siap dalam menghadapi serangan lawan selanjutnya. Pada tahap inilah seorang murid dituntut/dipancing mencari akal bagaimana meladeni lawan dakam posisi yang selalu menguntungkan yang di Ulujami dikenal dengan istilah “Beronce” atau “Ronce” yang diartikan dengan “Selalu sambung tak terputus layaknya anyaman rantai”(“semakin banyak akalnya,semakin banyak bukaannya”). Juga pada tahap ini pula H.M.Syukri memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk menghasilkan gerak-gerak yang spontan dalam menghadapi serangan yang tidak terpaku pada apa yang selama ini diajarkan. Untuk lebih lanjutnya beliau memberikan penilaian mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak dengan prinsip pakai,mana yang menguntungkan dan tinggalkan mana yang merugikan. Serta memberikan pilihan-pilihan tersebut kepada murid-muridnya. Prinsip ini juga yang menjadikan ada sedikit perbedaan dengan Troktok pada versi awalnya di Ulujami.
Sedangkan ritual “Ngonde” pada maenan ini yang dijadikan sebagai penutup keseluruhan pelajaran maen pukul ini mulai ditinggalkan oleh H.M.Syukri sejak beliau mulai mengajarkan maen pukul ini.
Beberapa hal penting yang selalu diajarkan H.M.Syukri,antara lain:
1. Semua jenis dan aliran maen pukul itu baik dan bagus semua. Tinggal bagaimana yang mempelajari mengamalkannya(Kong H Dilun).
2. Tinggalkan yang sekiranya merugikan bagi kita, dan pakai yang sekiranya menguntungkan bagi kita.
3. Ambil yang ada didepan mata, Jangan kejar yang jauh.
4. Jangan pernah meng”ecer”/”keteng” jika menghadapi situasi yang berbahaya, langsung “borong” saja. dll.
Mengingat sejarah maen pukul Troktok di Ulujami dari dulu hanya disampaikan dari mulut kemulut saja tanpa ada pencatatan yang jelas mengenai ini. Akhirnyapun beresiko melahirkan beberapa versi cerita/sejarahnya, begitu pula pada susunan sanad/silsilah pada maenan ini. berikut beberapa versi sanad/silsilah yang ada dikenal diUlujami;
A. 1. GURU MARZUK
A. 2. -Kong H dilun -Ki Belum -Kong awih -Ki Inan
A. 3. H.M.Syukri
B. 1. Lie Ceng Oek
B. 2. Guru Marzuk
B. 3. -Kong H.Dilun -Ki Belum -Kong Awih -Ki Inan
B. 4. H.M.Syukri.
C. 1. Guru Marzuk
C. 2. -Ki Belum -Kong Awih
C. 3. H.M.Syukri
Dari 3 versi sanad/silsilah yang ada dan dikenal di Ulujami,sanad yang pertama(A) lebih diyakini keakuratannya dibandingkan dengan versi kedua(B) dan ketiga(C). Adapun penyebutan nama besar Lie Ceng Oek yang notabene BEKSI pada sanad/silsilah versi 2(B) semata mencoba menampilkan apa adanya sesuai dengan apa yang ada dan berkembang di Ulujami,tanpa ada maksud lain/tertentu.
Berikut beberapa nama murid-murid senior yang tersisa dan masih aktif di Ulujami;
1. M.Nashri bin H.M.Syukri(Bang Nashri)
2. Otong al Hasan bin Acing S(Bang Otong)
3. Aini bin M.Dahlan(Bang Aini)
4. Suryadi(Bang Ewa)
5. Adang Kurnia(Bang Engkur)

Silek


20110109-silekminangkabau-sejarah 
Kajian sejarah silek memang rumit karena diterima dari mulut ke mulut, pernah seorang guru diwawancarai bahwa dia sama sekali tidak tahu siapa buyut gurunya. Bukti tertulis kebanyakan tidak ada. Seorang Tuo Silek dari Pauah, Kota Padang, cuma mengatakan bahwa dahulu silat ini diwariskan dari seorang kusir bendi (andong) dari Limau Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Seorang guru silek dari Sijunjung, Sumatera Barat mengatakan bahwa ilmu silat yang dia dapatkan berasal dari Lintau. Ada lagi Tuo Silek yang dikenal dengan nama Angku Budua mengatakan bahwa silat ini beliau peroleh dari Koto Anau, Kabupaten Solok. Daerah Koto Anau, Bayang dan Banda Sapuluah di Kabupaten Pesisir Selatan, Pauah di Kota Padang atau Lintau pada masa lalunya adalah daerah penting di wilayah Minangkabau. Daerah Solok misalnya adalah daerah pertahanan kerajaan Minangkabau menghadapi serangan musuh dari darat, sedangkan daerah Pesisir adalah daerah pertahanan menghadapi serangan musuh dari laut. Tidak terlalu banyak guru-guru silek yang bisa menyebutkan ranji guru-guru mereka secara lengkap.
Jika dirujuk dari buku berjudul Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran Silat Minangkabau karangan Mid Djamal (1986), maka dapat diketahui bahwa para pendiri dari Silek (Silat) di Minangkabau adalah
  • Datuak Suri Dirajo diperkirakan berdiri pada tahun 1119 Masehi di daerah Pariangan, Padangpanjang, Sumatera Barat.
  • Kambiang Utan (diperkirakan berasal dari Kamboja),
  • Harimau Campo (diperkirakan berasal dari daerah Champa),
  • Kuciang Siam (diperkirakan datang dari Siam atau Thailand) dan
  • Anjiang Mualim (diperkirakan datang dari Persia).
Di masa Datuak Suri Dirajo inilah silek Minangkabau pertama kali diramu dan tentu saja gerakan-gerakan beladiri dari pengawal yang empat orang tersebut turut mewarnai silek itu sendiri[9]. Nama-nama mereka memang seperti nama hewan (Kambing, Harimau, Kucing dan Anjing), namun tentu saja mereka adalah manusia, bukan hewan menurut persangkaan beberapa orang. Asal muasal Kambiang Hutan dan Anjiang Mualim memang sampai sekarang membutuhkan kajian lebih dalam darimana sebenarnya mereka berasal karena nama mereka tidak menunjukkan tempat secara spesifik. Perlu dilakukan kajian secara cermat dalam menelusuri hubungan sejarah antara masyarakat Minangkabau dengan Persia, Champa, Kamboja dan Thailand. Kajian genetik bisa juga dilakukan untuk melihat silsilah dari masyarakat Minangkabau itu sendiri. Kajian ini boleh jadi akan rumit dan memakan banyak sumber daya.
Jadi boleh dikatakan bahwa silat di Minangkabau adalah kombinasi dari ilmu beladiri lokal, ditambah dengan beladiri yang datang dari luar kawasan Nusantara. Jika ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa langkah silat di Minangkabau yang khas itu adalah buah karya mereka. Langkah silat Minangkabau sederhana saja, namun dibalik langkah sederhana itu, terkandung kecerdasan yang tinggi dari para penggagas ratusan tahun yang lampau. Mereka telah membuat langkah itu sedemikian rupa sehingga silek menjadi plastis untuk dikembangkan menjadi lebih rumit. Guru-guru silek atau pandeka yang lihai adalah orang yang benar-benar paham rahasia dari langkah silat yang sederhana itu, sehingga mereka bisa mengolahnya menjadi bentuk-bentuk gerakan silat sampai tidak hingga jumlahnya. Kiat yang demikian tergambar di dalam pepatah jiko dibalun sagadang bijo labu, jiko dikambang saleba alam (jika disimpulkan hanya sebesar biji labu, jika diuraikan akan menjadi selebar alam)

Pencak Sasak_Mata Pisau



Dahulu, seorang pengembara bernama Ujang akrab dipanggil Bang Ujang dari tanah Pasundan (Jawa Barat) yang haus akan ilmu – ilmu bela diri. Ia sanggup mengorbankan harta benda dan sisa hidupnya demi mencari ilmu bela diri. Ia berjalan mencari guru dengan bertarung jika ia kalah oleh seseorang maka orang itu akan diguruinya. Sampai ia bertemu dengan seorang yang bernama Raden Sa’id yang menjadi guru Bang Ujang.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalananya ke tempat – tempat lain di Jawa ke timur hingga ia pun tiba di pulau Lombok. Di Lombok, Bang Ujang tinggal di Ampenan dan banyak terlibat dalam pertarungan di sana untuk mencari guru baru. Dan sampailah laporan akan kehebatan Bang Ujang pada pemimpin Residen Lombok di bawah Kolonial Belanda yang bernama Datu Moter.
Bang Ujang pun diburon, tapi pasukan Datu Moter kalah sehingga Datu Moter menawarkan Bang Ujang menjadi gurunya, “Anda bukan tawanan saya, tapi Anda akan menjadi guru saya!”. Tawaran Datu Moter diterima Bang Ujang dan ia pun ikut ke Sakra tempat Datu Moter tinggal.
Pada saat Datu Moter belajar ia memilih Mamiq Mustar yang nama mudanya Lalu Abdul Wahid sebagai teman belajar dan latihannya. Tapi karena Datu Moter sering sibuk karena beliau adalah seorang pemimpin, Mamiq Mustar lebih bisa berkonsentrasi belajar.
Dan pada suatu saat Mamiq Mustar ingin bertanding ilmu dengan saudara perempuannya sendiri Baiq Sodah yang seorang ahli zikir. Baiq Sodah yang jengkel menerima tantangannya, “lawan saya sekalian dengan gurumu!”. Selain Bang Ujang mencari tanding yang bisa mengalahkannya ia pun bersedia bertanding dengan Baiq Sodah. Baiq Sodah yang seorang yang sholeha berkata, “Anda akan terpaku di situ!”. Dengan ijin Allah, Bang Ujang tidak bisa bergerak dan berbuat apa – apa.
Oleh karena itu, Bang Ujang yang sudah diliputi rasa malu kepada Baiq Sodah memutuskan untuk kembali lagi ke tanah Pasundan. Tak lama kemudian datang Surat Merah berita meninggalnya Bang Ujang.
Mamiq Mustar sendiri telah mengajarkan pencak Sasak kepada banyak murid – muridnya dan telah menurunkan ilmu bela dirinya kepada cucu beliau yang bernama Lalu Akub. Lalu Akub yang sekarang tinggal di desa Bungtiang memiliki banyak murid – murid yang hebat, dari salah satu muridnya bernama Muhammad Dedy Irawan pendiri perguruan pencak silat Sasak “Mata Pisau”  dengan tujuan untuk melestarikan dan membudayakan pencak Sasak dan Lalu Akub sebagai guru besar telah merestui keinginan tersebut.

IKS PI Kera Sakti

 


Perguruan IKS PI Kera Sakti yang berpusat di Madiun Jawa Timur ini merupakan perguruan beladiri beraliran kung fu untuk gerakan beladirinya tetapi untuk kerohaniannya lebih cenderung ke Banten dan ulama Jawa. Berdiri pada tanggal 15 Januari 1980 di Jl. Merpati No. 45, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Mangunharjo, Kodya Madiun oleh bapak R Totong Kiemdarto dengan gerakan beladiri kung fu aliran utara dan selatan yang dipelajarinya dari pendekar aliran kung fu China yang ada di Indonesia.

Adapun nama dari perguruan ini semula adalah
IKS PI (Ikatan Keluarga Silat "Putra Indonesia) tetapi ketika perguruan mulai berkembang diberi nama tambahan "Kera Sakti" dibelakangnya. Hal ini adalah karena masyarakat maupun murid-murid perguruan ini lebih mengenal nama jurus perguruan yaitu teknik jurus keranya daripada nama asli perguruan. Untuk itu selanjutnya dalam memudahkan pencarian identitas perguruan sekaligus secara tidak langsung menambah wibawa nama perguruan maka disebutlah IKS PI Kera Sakti.

Bapak Totong Kiemdarto lahir pada tanggal 20 Oktober 1953 di Madiun. Sebagai pendiri sekaligus guru besarnya, ia mengajarkan pelajaran silat monyet dan kerohanian untuk memantapkan fisik dan iman siswa dan siswi yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang sehat lahir maupun batin dan berjiwa pancasila.

Pada mulanya perguruan ini hanya dikenal di lingkungan masyarakat desa Nambangan Lor saja tetapi pada sekitar 1983 beberapa murid angkatan I dan II mulaimengembangkan ajaran perguruan di beberapa tempat, yaitu SMAN 3 Madiun, Lanuma Iswahyudi dan Dempel. Baru kemudian menyusul berkembang ditempat lain yang tidak saja di wilayah eks Karesidenan Madiun tetapi juga diluar Madiun.

Didalam metode latihan IKS PI Kera Sakti terdapat 5 tahapan penting untuk mencapai tingkatan tertinggi,yaitu:


  1. Tingkat dasar I sabuk hitam dengan lama latihan 6 bulan;
  2. Tingkat dasar II sabuk kuning sengan lama latihan 6 bulan;
  3. Warga tingkat I sabuk biru dengan lana latihan 1 tahun;
  4. Warga tingkat II sabuk merah;
  5. Warga tingkat III sabuk merah strip emas.
 I. Tingkat Dasar I Sabuk Hitam
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar I harus melewati 3 tahapan penting di dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar prguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkatan akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke tingkat dasar II).
Materi yang diberikan pada tingkat dasar I sabuk hitam antara lain teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan Chi Kung serta teknik dasar pengembangan jurus.

II. Tingkat Dasar II Sabuk Kuning
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar II harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar lanjutan perguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat I.
Materi yang diberikan adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan serta teknik dasar pengembangan jurus.

III. Warga Tingkat I Sabuk Biru
Warga tingkat I harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkatan awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan perguruan yang lebih rumit);
  2. tingkkatan menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan kombinasi);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat II.
Materi yang diberikan pada Warga tingkat I Sabuk Biru adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan, teknik dasar pengembangan jurus.

IV. Warga Tingkat II Sabuk Merah
Untuk latihan bagi warga tingkat II lebih banyak mengacu pada pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Sedangkan untuk materi yang diberikan pada warga tingkat II ini hanya boleh diketahui oleh warga tingkat II keatas dan tidak dapat disebarkan kepada umum alias dirahasiakan.

V. Warga Tingkat III Sabuk Merah Strip Emas
Untuk latihan bagi warga tingkat III lebih banyak mengacu pada pemantapan dari pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Seperti halnya materi pada warga tingkat II, materi tingkat ini juga dirahasiakan.